Menyemai Nasionalisme dari Pesantren

Oleh : Fatikhatuz Zahro

Saat Agustus tiba apa makna yang tersisa
dari bulan bersejarah ini bagi kalian?
Mengapa kalian tetap setia mengibarkan
bendera merah putih dan ikut aktif dalam
kegiatan Agustusan? Sekadar menjaga
kebersamaan ataukah didorong rasa cinta
tanah air (Nasionalisme)? Ah, Nasionalisme
hanyalah materi pelajaran anak anak di
sekolah dan urusan pemerintah. Jauh dari
hidup kita. Lalu ketika dalam banyak riset
anak anak dianggap cenderung semakin
intoleran, kurang mencintai bangsa, dan
negaranya, bukan hal gentingkah bagi
bangsa?

Mengingat pada tahun ini Negara kita,
bahkan dunia sedang dirundung wabah
corona yang mengharuskan kita untuk
menjaga jarak dan menghindari kerumunan.
Lalu dengan adanya hal semacam itu
membuat kita tidak melaksanakan upacara
bendera? Atau tetap melaksanakannya
karena kewajiban dan aturan yang sudah
menjadi tradisi setiap tahunnya.
Lalu mengapa tidak kita niatkan
karena rasa Nasionalisme? Atau Setidaknya
ungkapan rasa terimakasih kita atas jasa
pahlawan yang rela mengorbankan jiwa
raga mereka demi Negara ini? Ya, sekurang
kurangnya untuk menghormati dan
m e n g h a r g a i p a r a p a h l a w a n y a n g
memperjuangkan bangsa ini, yang di
dalamnya termasuk para ulama, kiai, dan
santri. Bukankah kita juga santri?
Seharusnya kita bangga menjadi santri,
menjadi bagian dari nama besar mereka.
Serta meneruskan jihad mereka, dengan
mencari ilmu dan mengamalkannya untuk
kemaslahatan umat dan Bangsa ini.
Bangsa ini sudah merdeka, dulu
hanya ingin mengibarkan bendera merah
putih saja, nyawa yang menjadi taruhannya.
tapi mengapa kita merasa berat yang hanya
untuk melaksanakan upacara bendera.
Untuk itu mulai sekarang ubah niat kita untuk
melaksanakan upacara bendera 17
Agustus. (Zra)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *