Masjid Agung Payaman – Saksi Bisu Karomah Romo Agung

Pusat Syiar Agama Islam

Masjid Agung Payaman terletak di Desa Payaman Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Lokasi cukup mudah dikenali karena terletak tepatnya di pinggir jalan utama Magelang – Semarang. Sejak zaman kolonial, masjid ini sudah masyhur karena menjadi satu pusat syiar agama Islam di Magelang dan sekitarnya.

Menurut cerita, Masjid Agung Payaman didirikan oleh seorang kyai kharismatik yaitu Simbah Kyai Siradj atau lebih dikenal dengan nama Mbah Romo Agung. Konon, julukan Romo Agung adalah gelar penghormatan yang dberikan oleh pemerintah Belanda pada saat itu karena Kyai Siradj mampu menghalau awan panas dan lahar Gunung Merapi yang saat itu meletus dan mengancam masyarakat wilayah Magelang dan sekitarnya.

KH. Siradj Romo Agung

KH Siradj Romo Agung

Kyai Siradj sendiri meninggal di usia 70 tahun pada tahun 1959 dan dimakamkan tepat di belakang Masjid Agung Payaman. Kini, makam kyai Siradj yang berada di belakang Masjid Agung tersebut juga menjadi objek wisata religi yang banyak diziarahi oleh masyakat sekitar maupun dari luar daerah. Mereka berziarah dan berdoa dengan bertawassul terhadap salah satu ulama’ penggagas senjata Bambu Runcing sebagai senjata perjuangan kemerdekaan Indonesia tersebut.

Pondok Sepuh

Di sisi depan masjid juga terdapat sebuah asrama atau pondok yang didirikan Kyai Siradj. Pondok tersebut bernama Pondok Sepuh yang memang sejak dulu dihuni oleh orang – orang sepuh atau lansia yang menjadi santri dari Kyai Siradj. Di bulan Romadhon, jumlah santri sepuh akan membludak sampai ke serambi Masjid Agung Payaman untuk mengikuti kegiatan Pasan (kegiatan ngaji dan riyadhoh di bulan Ramadhan). Kegiatan pasan tersebut sudah berlangsung sejak dulu masih diampu langsung oleh Kyai Siradj hingga sekarang diampu oleh keturunannya.

Sebenarnya, di sekitar Masjid Agung Payaman sendiri atau di wilayah Payaman Secang Magelang terdapat banyak pondok pesantren selain pondok sepuh tersebut. Di antaranya adalah Pondok Baru (Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin), Pondok Yajri (Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 2), Pondok Pesantren Romo Agung, Pondok Pesantren Sekar Panjag, Pondok Pesantren Al Husna, Pondok Pesantren Al Wustho, dan lain – lain. Setahu penulis, dari sekian pondok pesantren di Desa Payaman Kecamatan Secang Kabupaten Magelang tersebut hanya Pondok Yajri saja yang menyelenggarakan pendidikan formal (MTs dan MA) secara terintegrasi dalam satu kompleks pendidikan.

Arsitektur Masjid

Selain makam Kyai Siradj Payaman dan dikelilingi oleh banyak pondok pesantren, yang juga menjadi daya tarik dari Masjid Agung Payaman adalah bangunan masjidnya. Ruangan utama masjid ini berukuran sekitar 10 x 10 meter dengan dilengkapi serambi di sebelah kanan dan kiri masjid serta serambi depan yang relatif luas dengan ukuran 14 x 10 meter. Dengan ukuran tersebut, masjid ini setidaknya dapat menampung kurang lebih 300 jamaah.

Ciri yang melekat di dinding arsitekturnya terlihat dari ornamen tiang, langit – langit, mimbar bertingkat yang terbuat dari kayu, mihrab tempat imam memimpin sholat, dan kubah yang terletak di atasnya. Ada pula sebuah bedug dan kentongan yang usianya juga tidak kalah tuanya, namun masih tetap digunakan sebagai penanda waktu sholat telah tiba.

Bila sedang melintas di jalan Magelang – Semarang, sempatkan untuk berkunjung di masjid yang bersejarah ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *