Nasihat Habib Assayid Aiman bin Hasyim bin Muhammad Al Habsy untuk Para Santri dan Guru

PONDOK YAJRI – Ahad Wage, seperti biasanya halaman pondok kembali dipadati ratusan kendaraan roda dua. Sedangkan untuk roda empat berbaris rapi sepanjang jalan kalibening, di sekitaran kompleks pesantren. Pemandangan ini tidak mengherankan mengingat Acara Selapanan Bukhoren yang memang selalu dilaksanakan setiap 35 hari sekali yaitu pada Ahad Wage. Para jama’ah pengajian yang terdiri dari santri, alumni, wali santri, dan masyarakat umum selalu antusias hadir ke pesantren yang berlokasi di Jalan Kalibening Desa Payaman Kecamatan Secang Kabupaten Magelang. Terlebih bagi para wali santri, selain Selapanan Bukhoren, Ahad wage juga merupakan jadwal jenguk putra putri mereka, yang sesuai peraturan, hanya boleh dijenguk sekali dalam selapan hari.

Namun, kali ini, Ahad Wage  (10/11/19) ada yang berbeda dari biasanya. Jama’ah kali ini jauh lebih banyak. Mereka berjubel memadati mushola, bahkan teras – teras bangunan kelas pun tidak luput dari kerumunan jama’ah. Beberapa tenda dipasang di sekitar mushola guna menampung para jama’ah yang hadir. Animo hadirin yang demikian tinggi tidak mengejutkan mengingat acara Selapanan Bukhoren kali ini dihadiri oleh salah satu keturunan Rosulullah SAW dari tanah Hadromaut Yaman, Habib Assayid Aiman bin Hasyim bin Muhammad Al Habsy.

KH. Minanurrohman Anshori berdialog dengan Habib Assayid Aiman bin Hasyim bin Muhammad Al Habsy dari Hadromaut Yaman

Bertepatan dengan bulan Rabiul Awal, acara Selapanan Bukhoren kali ini pun dibalut dengan acara peringatan maulud Nabi Muhammad SAW, terlebih karena mendapat kehormatan dirawuhi seorang Habib dari Yaman. Namun, pembacaan kitab Shahih Bukhori pun tetap dilakukan oleh jamaah dan dipimpin langsung oleh Pengasuh Pesantren, KH. Minanurrohman Anshori. Selanjutnya, Habib Assayid Aiman bin Hasyim bin Muhammad Al Habsy pun berdiri di tengah – tengah kerumunan jama’ah (yang memang duduk berjubal dan berkerumun) dan memberikan tausiyah dan beberapa nasihat, khususnya kepada para santri.

Sang Habib berpesan kepada para santri, khususnya santri Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 2 (Pondok Yajri-red) untuk senantiasa menjaga adab atau perilaku santri. Di antara adab tersebut antara lain adalah sebagai berikut :

Hijrah

Hijrah bisa diartikan sebegai perpindahan tempat, dari tempat satu ke tempat yang lain. Sebagaimana para santri yang berpindah tempat dari rumah berpindah ke pesantren. Selain itu, hijrah juga bisa diartikan sebagai berpindah dari suatu keburukan ke suatu yang lebih baik. Misalnya dari yang sebelumnya belum tekun belajar berpindah menjadi lebih tekun belajar.

Sopan

Salah satu kesopanan yang harus dijaga santri adalah sopan dalam berpenampilan, terlebih ketika menghadap guru. Di hadapan para guru, santri harus tampil sopan dalam tingkah laku maupun berpakaian.

Fokus dalam belajar

Sudah seharusnya para santri untuk fokus memperhatikan guru dan ilmu yang disampaikannya. Jangan sampai ketika duduk belajar (mengaji) di hadapan guru tapi konsentrasi atau pikiran para santri malah “berkeliaran” entah ke mana dan tidak memperhatikan guru.

Sabar

Kesabaran suatu hal yang tidak dipisahkan dari santri, maka ketika menjadi santri sudah seharusnya kita memiliki sifat sabar. Sabar di sini berarti sabar dalam berproses mencari ilmu. Misalnya dalam menghafal pelajaran atau bahkan sabar harus jauh dari keluarga dan orang tua.

Mejaga Fasilitas Pesantren

Habib Aiman menyampaikan bahwa sejatinya pondok pesantren itu merupakan rumah kedua bagi santri. Maka sudah seharusnya santri senantiasa menjaga sarana prasarana atau fasilitas yang ada di pesantren sebagai mana ia menjaga rumahnya sendiri. Al habib juga menyatakan keharaman ketika santri merusak fasilitas pesantren.

Amanah

Sifat amanah yang berarti dapat dipercaya harus melekat dalam diri seorang santri. Diantara bentuk sifat amanah santri adalah menggunakan uang dari orang tua untuk hal – hal yang semestinya, tidak untuk hal – hal yang tidak diperlukan apalagi dilarang. Sebaliknya, santri tidak boleh bertindak khianat. Misalnya (contoh disampaikan Alhabib) adalah ketika membelanjakan uang dari orang tua untuk memberi rokok, maka ia melakukan suatu perbuatan yang haram.

Mengamalkan Ilmu

Sudah seharusnya santri yang sudah mempelajari suatu ilmu untuk mengamalkannya. Dan salah satu bentuk pengamalannya adalah dengan cara mengajarkan ilmu tersebut kepada santri yang lain. Tentunya itu berlaku bagi santri yang sudah paham, sehingga dapat membantu santri lain belum memahami ilmu tersebut. Dengan begitu, santri sudah termasuk mengamalkan ilmu.

Selain menyampaikan nasihat kepada para santri, Habib Aiman juga memberikan nasihat untuk para guru atau pengajar. Salah satu nasihat beliau adalah seorang guru harus bisa menjadi teladan bagi para santri. Karena sejatinya santri atau murid akan senantiasa mencontoh apa yang dilakukan guru. Semoga dengan Rawuhnya Habib Assayid Aiman bin Hasyim bin Muhammad Al Habsy dari tanah Hadromaut Yaman memberikan keberkahan bagi Pondok Yajri beserta seluruh civitas akademikanya. Amin. SIROJUNA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *