Badan Eksekutif Siswa Santri (BESS) Gelar Pemilu 2019, Upaya Santri Belajar Berdemokrasi

Badan Eksekutif Siswa Santri (BESS) Gelar Pemilu 2019, Upaya Santri Belajar Berdemokrasi

PAYAMAN – Santri Pondok Pesantren Sirojul Mukhlasin 2, MTs – MA Yajri menggelar pesta demokrasi pemilihan Presiden Badan Eksekutif Siswa Santri (BESS) masa bakti 2019-2020 pada Rabu (15/10/2019).

Proses pesta demokrasi itu digelar dalam beberapa tahapan. Dimulai dari pendaftaran kandidat, seleksi dan penentuan kandidat oleh dewan pembina, pengundian nomor urut pasangan kandidat hingga pemungutan suara oleh seluruh seluruh civitas akademika lembaga pendidikan yang dinaungi Yayasan Bakti Yajri tersebut. Bahkan, sebelumnya juga digelar debat kandidat di hadapan seluruh santri untuk menunjukan kredibilitas masing – masing paslon.

Mengadaptasi proses pemilu di Pemerintahan Indonesia, gelaran pesta demokrasi tersebut ditangani oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang beranggotakan siswa santri pilihan. Jadi seluruh proses kegiatan pemilu tersebut dijalankan oleh santri, meski tetap dalam pengawasan pengurus pesantren.

Pada pemilihan Presiden BESS kali ini, total ada tujuh pasangan calon yang akan memperebutkan jabatan tertinggi pada organisasi siswa santri itu. Empat paslon menjadi capres – cawapres BESS putra dan tiga paslon lainnya sebagai capres – cawapres BESS putri. 

Berikut ini adalah nama – nama paslon Presiden BESS Putra ;

Paslon 1 Ahmad Saif izzul Haq (XI IPA C) – Fachri Muhammad Akhyar (X IPA C)

Paslon 2 Ahmad Ashudi (XI IPS D)– Rizqi Ifan Setiawan (X IPS C)

Paslon 3 Joko Susanto (XI IPA C) – Alif Nuril Asror (X IPS D)

Paslon 4 Muhammad Muhyidin (XI IPA C) – Imam Ahmad Wafirudin (X IPA C)

Sedangkan nama – nama paslon Presiden BESS Putri adalah sebagai berikut ;

Paslon 1 Uswatun Khasanah (XI IPS B) – Najwa Syifa (X IPA A)

Paslon 2 Siti Kharisma Ma’sumah (XI IPS A) – Ana Muflikhah (X IPS A)

Paslon 3 Nisa Fatin Raisa (XI IPS A) – Fauzah Risqi Nur Laili (X IPA A)

Untuk menciptakan proses pemilu yang akuntabel dan transparan beberapa aturan ketat pun diterapkan oleh panitia. Misalnya aturan dalam hal pemungutan, bahwa setiap siswa santri yang hendak wajib menunjukan kartu pelajar atau kartu santri, jika tidak bisa menunjukan maka yang bersangkutan tidak bisa mencoblos. Hal tersebut menunjukan bahwa siswa santri yang terlibat menjadi penyelenggara sudah menyadari pentingnya kartu identitas dalam beradministrasi. Selain itu, hal demikian juga menjadi pembelajaran terhadap semua calon pemilih bahwa suara mereka sangat penting dalam menentukan calon pemimpin.

Diharapkan, dengan diselenggarakannya gelaran pesta demokrasi tinggat pesantren dan madrasah tersebut, semua siswa santri dapat memahami pentingnya berorganisasi dan berdemokrasi. Lebih dari itu, siswa santri juga dapat mengimplementasikannya di masyarakat. (Sirojuna)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *